Malang, 3 Desember 2025 – Sebanyak tujuh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang mengungkap pergeseran demografi dan transformasi fisik Kawasan Pecinan Malang, dari permukiman komunitas Tionghoa menjadi kawasan komersial heterogen. Observasi yang dipandu oleh Dosen Pengampu Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia yakni ibu Nailul Fauziyah, M.A., pada Rabu (3/12/2025) itu melibatkan wawancara dengan pelaku usaha lama dan penelusuran bukti sejarah, termasuk Klenteng Eng An Kiong.
Tim dari kelas International Class Program (ICP) Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Malang angkatan 2024 tersebut terdiri dari Rafli Augustaf Rohmanzah, Nadzirotul Lutfiani, Nabila Wardatul Khauro’, Maulidiyah Nurizzah Intan Sari, Kanesya Syafa K.T., Nadhif Aziz Fauzan, dan Mahadir Muhammad Fikri Rohmatulloh.
Mereka mengawali observasi di Klenteng Eng An Kiong, bangunan berarsitektur Tionghoa yang menjadi penanda sejarah keberadaan komunitas Tionghoa di kawasan tersebut. Keberadaan klenteng ini merupakan bukti fisik bahwa kawasan ini dulunya merupakan permukiman yang signifikan dihuni oleh warga Tionghoa.
Temuan kunci diperkuat oleh kesaksian Bapak Sugub , pedagang mie ayam yang telah berjualan sejak 1995. “Pada awal saya berjualan, kampung Pecinan ini sebagian besar dihuni warga Tionghoa. Orang Jawa bisa dihitung. Sekarang, warga Tionghoa yang masih tinggal hanya sedikit. Pergeseran penduduk inilah yang turut mengubah wajah kawasan, menjadi ramai oleh ruko,” ujarnya kepada tim observasi.
Fakta di lapangan menunjukkan, deretan roko modern dan usaha variatif kini mendominasi sepanjang jalan utama, menggeser kesan kawasan sebagai permukiman etnis. Menurut Nadzirotul Lutfiani, salah satu anggota tim, perubahan ini merepresentasikan dinamika urban dan ekonomi perkotaan. “Transformasi dari ruang residensial etnis menjadi ruang komersial terbuka adalah fenomena kompleks yang melibatkan faktor sosial, ekonomi, dan kebijakan tata kota,” jelasnya.
Meski demikian, sisa-sisa identitas lama masih dapat dijumpai, seperti pada ornamen beberapa bangunan tua dan beberapa usaha khusus yang mengusung budaya Tionghoa.
Observasi ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia yang bertujuan melatih kemampuan analisis sosial empiris. Data yang terkumpul akan dikembangkan menjadi laporan akademis untuk mendokumentasikan perubahan urban di Malang.
Adapula vlog observasi kampung pecinan pada link berikut : https://youtu.be/LzgMhgbVvzI?si=U6nYxqzWaqJq9SuL





