MIU Login

Permukiman Arab ke Sentra Perdagangan Timur Tengah: ObservasiMahasiswa UIN Malang Telusuri Dinamika Kampung Arab Embong Arab

Malang, 3 Desember 2025 – Enam mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang mengungkap dinamika sejarah, sosial, dan ekonomi Kampung Arab Embong Arab, Malang, yang berkembang sebagai permukiman keturunan Arab sekaligus pusat perdagangan khas Timur Tengah. Observasi ini dilaksanakan pada Rabu (3/12/2025) dan dipandu oleh Dosen Pengampu Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia, Ibu Nailul Fauziyah, M.A., melalui metode wawancara langsung dan pengamatan lapangan.

Tim observasi dari kelas International Class Program (ICP) Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Malang angkatan 2024 tersebut terdiri dari Qosda Naila Sasabela, Zarrah Azzahrawani Banawi, Disya Za’amatu Aufa Faliha, Aulia Rosida, Fauzia Paramita Jannah, dan Raditya Alvin Maulana.

Observasi diawali di kawasan Embong Arab, yang dikenal sebagai pusat permukiman keturunan Arab di Kota Malang. Kawasan ini terbentuk secara turun-temurun sejak kedatangan para pendatang Arab, khususnya dari Yaman (Hadramaut), yang datang ke Indonesia melalui jalur perdagangan laut dan kemudian menetap di wilayah yang dianggap paling sesuai untuk mencari nafkah dan bersosialisasi dengan masyarakat setempat.

Temuan lapangan diperkuat melalui wawancara dengan Bapak Yahya, pemilik Rumah Makan Cairo yang telah berdiri sejak tahun 1953 dan menjadi salah satu ikon Kampung Arab. Ia menjelaskan bahwa kedatangan orang Arab ke Malang bukan semata untuk menyebarkan agama, melainkan melalui proses sosial dan ekonomi.

“Orang Arab datang ke sini berdagang dan bersosialisasi. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk hidup. Kalau sudah cocok, mereka memanggil saudaranya, dan akhirnya terbentuklah Kampung Arab secara turun-temurun,” ungkapnya.

Secara fisik dan ekonomi, kawasan Embong Arab kini lebih dikenal sebagai sentra perdagangan yang menjual berbagai produk khas Timur Tengah, seperti kurma, parfum, dan buku-buku keislaman. Meski tidak dikembangkan secara khusus sebagai kawasan wisata religi, aktivitas perdagangan menjadi ciri utama yang membentuk identitas kawasan hingga saat ini.

Dari sisi sosial, hasil observasi menunjukkan bahwa masyarakat keturunan Arab di Kampung Arab hidup berbaur dengan warga lokal tanpa adanya pengelompokan eksklusif. Hal ini ditegaskan oleh Bapak RT setempat yang menyebutkan bahwa meskipun jumlah warga keturunan Arab di kawasan ini relatif lebih banyak dibanding daerah lain di Malang, kehidupan sosial tetap berjalan harmonis dan inklusif.

Keunikan lain yang ditemukan adalah penggunaan bahasa campuran dalam kehidupan sehari-hari, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Arab, terutama saat berinteraksi antar sesama keturunan Arab. Selain itu, kehidupan keagamaan di Kampung Arab juga cukup aktif, ditandai dengan majelis taklim rutin, peringatan maulid mingguan, serta kunjungan habaib dan syekh dari luar daerah.

Menurut Aulia Rosida, salah satu anggota tim, Kampung Arab Embong Arab merepresentasikan proses adaptasi budaya yang dinamis. “Kampung Arab tidak hanya menjadi ruang tinggal etnis tertentu, tetapi juga ruang interaksi sosial, ekonomi, dan keagamaan yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman,” jelasnya.

Observasi ini merupakan bagian dari tugas Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia yang bertujuan melatih mahasiswa dalam memahami sejarah lokal melalui pendekatan empiris dan kontekstual. Data yang diperoleh akan dikembangkan menjadi laporan akademik untuk mendokumentasikan keberagaman budaya dan dinamika sosial perkotaan di Kota Malang.

Adapun vlog observasi Kampung Arab Embong Arab oleh tim mahasiswa UIN Malang dapat disaksikan melalui tautan ini https://youtu.be/DA3bdgeLEJs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait